Membaca atau Menonton Berita, Siapkah?

Masih ingat dibenak saya, saat kecil menemukan sebuah majalah kriminal punya orangtua saya yang didalamnya hanya berwarna hitam putih, dengan gambar buronan yang ditutupi bagian matanya berbentuk kotak berwarna hitam.  Saya memang lupa nama majalahnya apa, tapi sampai hari ini yang dianggap penjahat dimasa itu tidak terlalu jelas wajahnya untuk ditampilkan. Berbeda seperti saat ini.  Dibagian lain bisa saja dibuat blur, sementara di bagian lain terlihat dengan sangat jelas termasuk siapa saja yang memiliki kedekatan hubungan dengan si penjahat.

Bicara majalah dan koran, saluran televisi di masa saya tentu berbeda seperti sekarang.  Ditambah saat ini akses internet semakin mudah digapai semua kalangan. Jangan bandingkan dengan era saya kecil.  Jaman sekarang semua channel sangat mudah digapai.  Jika tidak berlangganan sekalipun, ada internet yang menjadi pamungkas selama kuota tersedia.

Namun dari semua tayangan dan bacaan yang dipermudah, sadarkah bahwa justru kita seharusnya dapat membedakan mana yang disebut berita hiburan atau berita sebagai ilmu pengetahuan? Termasuk berita sebagai sumber informasi yang valid atau hoax?

Mudahnya penyebaran berita saat ini terlepas dari benar atau tidaknya, kadangkala membuat kita naik darah.  Belum selesai membaca yang satu, kemudian muncul berita lain yang tidak kalah membuat sakit kepala.  

Berita yang sifatnya menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, tentu memberi kita manfaat yang jauh lebih berarti dibandingkan berita hiburan sesaat viral, dan bisa saja memberikan efek samping negatif bagi perkembangan jiwa dan akhirnya raga.

Bagaimana cara kita mengetahui sebuah peristiwa tanpa membuatnya tak terkendali? Apakah kita dapat belajar bagaimana berpikiran terbuka mengenai berita yang tidak selaras dengan prinsip kita? Apakah berita kita bukan mengada-ada? Bagaimana agar berita yang kita butuhkan tersaring dengan baik?

Bagaimana kita melatih anak-anak untuk terlibat dan mengetahui peristiwa yang terjadi secara bertanggungjawab?  Atau justru kita sendiri yang belum siap melihat banyaknya berita beredar setiap harinya?

...

Membaca atau menonton berita, siapkah?

Pengalaman dan Bagaimana Kami

Kembali lagi mundur ke belakang, orangtua saya berlangganan koran yang diletakkan di meja, tidak disembunyikan atau adanya larangan bagi kami membacanya.  Bisa jadi tampilan koran tidak semenarik majalah, tidak terlalu membuat saya kecil begitu rajin membaca koran.  Tidak rajin bukan artinya tidak pernah.  Sama halnya dengan televisi.  Orangtua tidak melarang kami menonton televisi.  Yang jelas ada pelarangan nonton televisi di jam malam saat tidur, yaitu maksimal pukul sembilan malam.  Jadi jika ditanya apakah kami pernah menonton berita yang disiarkan di televisi? Jawabannya  tentu iya. Siaran berita nasional pukul 7 malam merupakan siaran berita di TVRI rutin hadir tanpa saingan hingga beberapa tahun kemudian barulah muncul saluran televisi lainnya meramaikan suasana pertelevisian hingga dapat menutupi siaran berita nasional.  

Mungkin jika dihadapkan pada situasi seperti saat ini, ceritanya bisa saja berbeda? Who knows?

Pada masa itu, jadwal berita sedemikian teraturnya.  Tidak seperti saat ini saluran yang menyiarkan berita disepanjang harinya pun ada. Jangan tanya dengan acara update news, termasuk running text sebagai berita singkat yang berjalan di sepanjang acara di televisi.  

Usia anak saya saat ini 4 dan 9 tahun.  Masih kecil bagi saya, untuk mereka mengetahui berita secara detil terutama yang tidak terlalu mempengaruhi kesehariannya.  

Saya tidak mengkotak-kotakkan usia berapa yang pantas, namun bagi saya untuk anak saya saat ini tidak semua berita perlu diketahuinya.  Pernah melihat berita update di televisi, cukup membuat saya deg-degan dengan berita yang rasanya belum pantas di dengar usia anak-anak lebih muda.  Jika bicara tentang gagal panen, atau bencana alam yang terjadi masih lebih mudah diselipkan ilmu pengetahuan, tidak dengan berita kekerasan bagi saya yang dapat saja menguras energi untuk menjelaskan disaat usianya masih perlu dicukupkan dulu tentang indahnya kasih sayang.

Akhirnya saat ini saya membatasi bahkan tidak menghidupkan televisi kecuali untuk menonton film anak-anak.  Saya lebih suka memberikan penjelasan melalui tulisan atau kertas bergambar sebagai awalan belajar mengenai peristiwa dan masalah sosial juga peristiwa bersejarah.  

Secara bertahap disaat usianya bertambah dengan pola pikir dan kegiatan yang lebih kompleks, barulah saya akan berbagi berita yang lebih luas. Membuatnya membaca artikel berita secara rutin kemudian mendiskusikannya tentang bagaimana kondisi dan saat lebih sulit bersama saya.

Saya pun tidak berharap anak-anak terbawa dalam berita clickbait, tetapi saya tetap menginginkan mereka dapat memeriksa peristiwa terkini saat dewasa termasuk bagaimana cara menghadapinya jika menjadikan kondisi sulit.

Saya pikir sebagai orang dewasa pun tidak mengharuskan bagi kita mengetahui semua berita yang terjadi, kecuali yang benar-benar penting bagi kita.  Itupun menjadi kembali subjektif berdasarkan seberapa berpengaruhnya hingga berefek pada kehidupan kita masing-masing.  

Seberapa siap mencari tahu sebuah berita?

Seberapa siap ya? Kesiapan berdasarkan apa? Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan.   Mengapa? Karena tidak ada satu dasar yang pakem untuk dilakukan sama terhadap setiap orang, namun beberapa pertanyaan ini mungkin dapat ditanyakan kepada siapapun

Cek lagi, bagaimana kesiapanmu untuk mengetahui sebuah berita

Siapkah anda membaca atau menonton berita
Ilustrasi pic : canva

Anda siap membaca atau menonton berita?

1.  Bagaimana fisik Anda? Sedang merasa lelah, kurang enak badan? Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk terlalu memaksakan mengetahui sebuah berita.

2. Namun situasinya Anda sedang benar-benar butuh mencari informasi.  Lalu bagaimana? Apakah memang benar demikian, atau Anda hanya mencari sesuatu sebagai pengalihan atas dasar kebosanan? Ketika bosan, sepertinya berita bukan pilihan terbaik, hmm...

3. Bagaimana dengan pendapat Anda sendiri? Apakah Anda siap untuk tidak terpaku sementara dengan ide Anda? Buka pikiran agar lebih jernih ketika membaca sebuah berita yang bisa saja bersebrangan dengan pendapat Anda.

Bagaimana reputasi sumber berita?

1. Apakah sumber berita ini secara jelas memberikan bagian mana yang merupakan opini, atau laporan faktual?

2. Apakah sumber berita di tuliskan secara jelas, bukan diteruskan dari sumber lain yang belum tentu jelas?

3. Apakah sumber berita ini bertujuan memihak sekelompok orang tertentu? Memiliki agenda politik atau ideologi tertentu?

4. Apakah sumber berita ini memiliki tujuan tertentu? Misalnya membuat ketakutan, kemarahan dan sejenisnya? Jika iya, dan kita tidak termasuk yang cukup mudah terpengaruh, ada baiknya menunda hingga siap.

Berdiskusi tentang sebuah berita, apa dan bagaimana 

1. Apa tema  berita tersebut?

2. Bagaimana ceritanya? Bagaimana pula nada artikel tersebut? Menyindir, mengajak, menginformasikan? 

3. Apakah pembaca digiring pada sebuah kesimpulan tertentu? Darimana kita tahu, dan apakah setuju?

4.   Sudut pandang siapa yang disajikan? Atau adakah sudut pandang yang hilang?

5. Siapa yang berbicara, atau adakah sumber yang lebih pantas justru dibungkam?

6. Pihak mana yang diunggulkan, adakah yang dilupakan? Atau justru yang dianggap positif sementara pihak lain di cerca?

Melihat kembali sudut pandang lainnya

1. Apakah ada sumber berita lain menceritakan hal yang sama? 

2. Bagaimana sumber utama atau yang pertama kali meluncurkan beritanya? Apakah hal tersebut memberikan informasi yang lebih banyak dan lengkap?

3. Adakah sumber terdekat untuk kita melihat bagaimana sebuah topik dapat mempengaruhi kehidupan dan orang sekitar?

4. Mungkin jika ada referensi dari buku dalam penjelasan lebih ilmiah, misalnya?

Penjelasan lebih dalam

1. Setelah membaca berdiskusi adakah yang masih belum didapatkan?

2.  Bagaimana dengan istilah yang muncul dalam sebuah artikel?

3. Perlukah mencari fakta lainnya? 

4. Adakah kemungkinan kebijakan dan aturan belum jelas?

5. Apakah ada pertentangan dengan sumber lainnya?

6. Masih adakah yang dapat dipelajari?

Mungkin dan mungkin

Menelaah sebuah berita dapat menelurkan banyak kemungkinan.  Bahkan kemampuan memahami sebuah literasi dari setiap orang dapat mengalami banyak perbedaan.  

Baca juga budaya baca di beberapa negara

Satu hal penting yang saya anggap utama dalam memilah sebuah pemberitaan apakah yang bersifat hiburan sekalipun, tetaplah dibutuhkan logika. Logika mencerna, menganalisa, memeriksa, hingga akhirnya didapat kesimpulan, bukan hanya sekedar tentang berita tersebut, namun pengaruhnya dalam kehidupan.

Bagaimana dengan kamu? Keluargamu? Bagaimana cara Anda berbagi acara terkini sehingga membuat mereka bagian dari masyarakat paham informasi?

Jika Anda memiliki anak-anak yang berusia memasuki remaja, saya pikir Anda bisa berbagi pengalaman dengan menuliskan pendapat Anda mengenalkan dan melatihnya. Saya tunggu ya :)



*With LOVE,

@her.lyaa

Posting Komentar

13 Komentar

  1. Hellobondy.com13 Juli 2020 17.54

    Mbak Lia ini menarik sekali, karena setiap detik kita menerima banyak sekali informasi. Sehingga kita tidak membaca dan menyerapnya menyeluruh. Belum lagi share Judul berita yang tidak menggambarkan berita yang sebenernya. Membaca memang membutuhkan energi, tentu saja harus pilih-pilih informasi yang akan diserap. :) Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat mbk Nindy, kadang jg over informasi makin bikin pusing kepala. Btw makasih ya dah mampir. Semoga energi kita memang habis di tempat yag tepat ;) dan sehat2 selalu :))

      Hapus
  2. Informasinya sangat menarik sekali mba apalagi di jaman skrg.. byk sekali informasi2 msuk tanpa filter dan tanpa kejelasan apa benar atau cuma hoax.. mksh loh sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Terimakasih juga mbk sudh mampir :) semoga bermanfaat :))

      Hapus
  3. yup setuju banget zaman sekarang penting unt melek informasi.Mengajarkan anak mengenali sumber berita yang bisa dipercaya juga penting

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bgt... Jgnkan anak2, sbg orngtua rasanya kita masih terus belajar, manusia kdng ada khilafnya juga ..hwhwh

      Hapus
  4. Wah detail sekali pembahasannya. Jadi malu, aku tergolong org yg tdk terlalu mengkonsumsi berita soalnya hehe.
    Sependapat juga sama mba bakalan susah menjelaskan berita kekerasan untuk si kecil. Jadi ak lebih nyaman dia anteng dengan upin ipinnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika melihat berita skrng, rasanya sy juga lebih banyk skip. Beberapa Masib diikuti, agar anak2 jg tahu masih ada berita baik yang bs disaksikan plus bahan obrolan sama paksu,heheh

      Hapus
  5. Huhuhu, jujur saya juga kesulitan membaca semua isi berita dengan seksama, makanya saya men-challenge diri saya untuk kembali menuliskan hal tersebut di blog.

    Dengan menuliskan hal tersebut, mau nggak mau saya wajib baca dengan seksama, mencari tahu berita lain, agar yakin dengan berita tersebut :)

    Atau saya ikutan bahas sesuatu yang ramai di medsos, biasanya saya cari infonya sampai sedetail-detailnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaa...ketika kita benar-benar mencari dengan detil biasanya bakal dapat feel-nya hingga akhirnya fakta bagaimana Berta tsb. Tinggal mau diteruskan atau mau dihentikan ya mbk, hehe..
      Makasih ya dah mampir, salam hangat :)

      Hapus
  6. Dulu kalo membaca koran atau mendengarkan berita, rasanya itu selalu kita percaya sebagai berita yg valid yaa :D. Tp zaman skr, ga bisa begitu LG. Semua berita, even dari sumber yg sudah mempunyai nama besar, ga bisa lgs kita percaya begitu aja.

    Media bahkan tv susah untuk menjadi netral. Mau ga mau, tugas kita sebagai pendengar ato membaca harus hati2 menyaring berita yg didapat :(.

    Kadang, kalo udah pusing membaca berita yg didenger, aku memilih untuk ga baca dulu mba. Drpd makin stress :D. Puasa sosmed, puasa berita, supaya pikiran jernih lagi :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidur pada akhirnya jd bagian pamungkas buat istirahat :p
      ga bs bohong kenyataan skrng lebih banyk yg dititipi ketimbang independen. Bahkan utk sebuah informasi yang sifatnya ilmu pengetahuan, kita masih tetap mencari banyak sumber utk meyakinkan...
      Makasih y mbk dah mampir :) ttp semangat menyaring sebuah berita ^^

      Hapus

Yuk tinggalkan komentar baik dan cerdas🤗

Terimakasih... 🙏