Let's Read, Budaya Membaca Dalam Genggaman

Ala bisa karena biasa bukan hanya sekedar pepatah yang diucapkan orangtua generasi saya dan mungkin generasi sebelum-sebelumnya.  Namun pepatah tersebut rasanya akan masih valid diucapkan dan diresapi untuk generasi saat ini dan bisa jadi budaya untuk generasi-generasi selanjutnya. 

Bertrand Russell, seorang filsuf sekaligus penulis menyatakan, "Ada dua motif untuk membaca buku.  Pertama, kau menikmatinya, dan yang lain kau bisa menyombongkannya."

Membaca itu bukanlah sebuah tren, namun keharusan, karena kamu akan menemukan sesuatu dari sana yang dapat membuatmu berpikir tentang banyak hal - @her.lyaa

***

Masih ingat dalam benak saya saat kecil, setiap hari di saat seusai jam makan malam, sekitar pukul setengah delapan malam, biasanya saya bersama kedua kakak dan orangtua selalu duduk bersama di meja bundar besar yang juga merupakan meja makan kami untuk mengerjakan banyak hal.  

Setelah mengerjakan pekerjaan sekolah, biasanya dilanjutkan dengan membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan sekolah.  Sementara kedua orangtua mendampingi dengan ikut membaca buku juga mendengar saya membaca dengan suara yang lantang untuk memperbaiki jika saja tanda titik dan koma saya terabas.  

Berbeda pada hari minggunya, setelah makan malam, tidak ada ritual membaca bersama dimeja bundar, karena momen itu biasanya kami lakukan persis sebelum jam tidur siang, dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu masing-masing dari kami diminta menjelaskan kepada semuanya bagaimana cerita dari buku yang kami baca.

Sesungguhnya, budaya membaca yang saya alami,  bukan hanya bermula di saat saya sudah mulai bisa membaca.  Saya kecil dibiarkan membalik lembar demi lembar buku, sambil mendengarkan almarhum papa bercerita untuk saya menjelang tidur malam.

Beruntung saya bersekolah di sekolah yang memiliki perpustakaan dengan beragam buku bagus.  Hampir setiap jam istirahat saya selalu duduk disana.  Sebagai anggota perpustakaan, akses pinjam buku untuk dibawa pulang dapat dilakukan kapan saja dengan syarat buku yang kami pinjam wajib dikembalikan dalam kondisi tetap mulus.  

Rasa penasaran ingin membaca semua buku tersebut muncul entah karena suasana perpustakaan yang nyaman, gambarnya yang selalu mencuri perhatian, atau karena kebiasaan keluarga kami membaca buku bersama membuat saya kecil dapat tenang duduk berlama-lama menikmati buku.

Buku memang merupakan sesuatu yang mahal bagi saya saat kecil.  Membeli buku bacaan bagi kami, merupakan sesuatu yang ekslusif yang belum tentu kami dapatkan setiap saat.  Artinya jika saatnya membeli buku, kami diminta selektif memilih buku yang benar-benar terbaik diantara banyak pilihan buku terbaik.

Waktu terus berlalu.  Semakin besar, budaya membaca dikeluarga kami mulai sedikit berubah. Masing-masing dari kami lebih suka menyendiri saat membaca buku.  Tidak lagi berkumpul di meja bundar.  Bahkan saat bepergian, seringkali kami menghabiskan waktu di perjalanan sambil membaca. Hanya sesekali ketika sambil makan, papa saya sering bertanya, "Baca buku apa hari ini?" Dan kamipun mulai berbagi cerita buku kami hari itu.

Tingkat Literasi Indonesia di Dunia

Dalam laporan UNESCO tahun 2016, dikatakan bahwa dalam hal literasi dan membaca, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara  Apakah memang benar kenyataannya demikian? 

Infografis Tingkat Literasi  Indonesia di Dunia
Infografis literasi Indonesia di Dunia 

Sementara menurut hasil survey World Culture Score Indeks (2018), Indonesia menempati posisi 17 dari 30 negara yang artinya hampir mendekati posisi pertengahan dalam hal kegemaran membaca.  Seharusnya itu menunjukkan pertanda baik bukan?

Cukup berlawanan dengan hasil survei PISA (2018) menempatkan posisi Indonesia di urutan 74 dari 79 negara dalam hal skor terendah membaca dengan nilai skor 379 dari rata-rata OECD 489

Minat baca yang kurang apakah karena tidak adanya budaya membaca, atau karena minimnya ketersediaan bacaan bermutu dan berkualitas yang membuat kita jatuh cinta hingga akhirnya menjadi candu dengan sebuah karya tulisan?


Padahal jika melihat posisi Indonesia dalam survey jumlah perpustakaan terbanyak di dunia tahun 2018, yang diambil dari website Perpunas, Indonesia menempati peringkat kedua setelah India. Lantas?

Bisa Baca, atau Suka Baca?

Jika ada pilihan bisa baca atau suka baca, mana yang akan kamu ambil? 

Kedua pilihan yang bisa jadi jebakan betmen dikalangan orangtua masa sekarang, hingga membuat kebanyakan orangtua berlomba-lomba agar anaknya bisa membaca terlebih dahulu dibandingkan suka baca.

Lho? Gimana suka baca kalau baca saja belum bisa?

Pernyataan yang cukup masuk akal ketika seseorang belum bisa membaca, lantas bagaimana dia bisa suka membaca? 

Let's Read budayakan membaca di rumah
Saat si kecil membaca buku mandiri - pic : dokpri

Pemahaman membaca bukan hanya sekedar melafalkan huruf-huruf yang bersatu kemudian menjadi sebuah kata dan berkembang menjadi sebuah kalimat, paragraf dan seterusnya.  Namun membaca merupakan salah satu cara dalam memahami makna dari sebuah tulisan.

Bayangkan saja susunan huruf  b, u, k, u menjadi kata buku dan memberikan pemahaman dalam pikiran kita seperti apa itu buku, bagaimana bentuknya, apa yang dirasakan saat mengeja tulisan buku dan seterusnya.  Jika sekedar bisa melafalkan buku, bukan jatuh cinta pada sebuah kata-kata buku, maka kata buku hanya berhenti sampai di sana tanpa mencarinya kembali di tempat yang lain.

Senang baca untuk pembaca awal tidak menuntutnya langsung pandai membaca.  Mengenal keberadaan bacaan, sampul warna-warninya, gambar di bagian dalam dan membayangkan tulisannya termasuk menambah kosakata mereka saat masih dibacakan orang lain.  

Membaca secara tanpa sadar menjadikan kreatif dalam membayangkan, berimajinasi termasuk berlatih memprediksi apa yang dibaca.  Sensasi saat membayangkan setting, suasana dan tokoh yang dituliskan memberikan pengalaman luar biasa saat membaca, belum lagi ditambah bonus ide, wawasan termasuk hikmah dari sebuah bacaan.

Jangan ditanya bagaimana ketangguhan pembaca dapat teruji disaat berhasil menyelesaikan hingga akhir setelah memutuskan untuk mulai membacanya.

Membaca karena suka tidak akan membuatnya merasa terpaksa, namun akan memberikan kesenangan dari proses memahirkan membaca.  Tanpa di suruh apalagi di ancam, anak akan melakukan budaya membaca setiap saat sepanjang hidupnya. 

Bangun Budaya Membaca dari Rumah

Pengalaman kecil saya mengajarkan keterbatasan akses bacaan di rumah dapat teratasi dengan koleksi buku terbaik di perpustakaan sekolah.  Bisa jadi minat membaca ikut tumbuh bersama dengan dukungan kemudahan mendapatkan bacaan berkualitas.  Mungkinkah seharusnya demikian?

Sayapun merasa kebiasaan yang dialami saat kecil perlu saya turunkan ke anak-anak kami.  Mungkin tidak dengan meja bundarnya.  Namun menjadikan budaya membaca terus dilakukan.
Let's Read, tips budaya membaca di rumah
Tips melatih budaya membaca di rumah


Dulu saya kecil yang didengar membaca lantang, namun kini saatnya setelah menjadi seorang ibu, sayalah yang bertugas untuk menyimak. 

Di awal belajar membaca, anak sulung saya seringkali membaca dengan intonasi yang cukup membingungkan.  Tanda baca koma seolah tidak ada artinya, intonasi bertanya terasa seperti datar. Meskipun ada kalanya terkesan lambat, tidak mengapa, yang selalu saya tekankan adalah bagaimana melatih membaca semua suku kata dan tanda baca dengan tepat, semua tentu butuh proses.

Untuk mengukur konsentrasi dan durasi lamanya membaca membutuhkan proses sedikit demi sedikit menjadi bukit. 

Membangun kesadaran budaya membaca, seharusnya tidak dapat dipaksakan. Dengan durasi waktu singkat pada awalnya, lama kelamaan akan terus meningkat kemudian menjadikannya terbiasa. Waktu khusus membaca yang awalnya hanya bisa dilakukan 5 menit sehari,  seiring waktu akan terus bertambah dan terasa ada yang kurang jika tidak dilakukan termasuk koleksi bacaan semakin beragam dengan makna yang lebih dalam. 

Tentu saja treatment yang dilakukan akan berbeda saat usia anak sekitar 4-5 tahun.  Seperti saat ini adiknya mulai tertarik dengan angka dan huruf, keinginan menuliskan namanya sebagai tanda kepercayaan diri semakin meningkat, tetap saya layani secukupnya, tidak serta merta berambisi menjadikannya kegiatan formal. Mengalir dalam ritual intim misalnya dengan membacakan kisah sebelum tidur atau disaat kapanpun bersama-sama dengan suasana menyenangkan. 

Budaya membaca berawal dari rumah, namun dapat terus berlanjut tidak hanya dilakukan di dalam rumah saja.  Di saat sedang dalam perjalanan, sambil menikmati kemacetan, mengantri pembayaran di supermarket, saat berada di ruang tunggu konsultasi dokter, hingga kapanpun waktu senggang muncul sebagai salah satu solusi anti mati gaya penuh manfaat. Percaya deh! 

Let's read, Inovasi Perpustakaan Era Digital

Istilah revolusi industri 4.0 dikenal dunia saat ini dengan masa pemanfaatan teknologi Otomasi, big data, robot, artificial intelligence dan internet of tihings (IoT).  Dampaknya era revolusi ini dapat meningkatkan tingkat efektifitas dan efisiensi waktu.

Pemanfaatan teknologi yang menjadi pengembangan Industri konvensional menuju industri digital dapat di rasakan oleh semua orang.  Saat ini akses informasi sangat mudah dan bisa dilakukan kapanpun dengan adanya jaringan internet.

Jika George R. R. Martin, penulis buku Game Of Thrones menyatakan bahwa pembaca hidup ribuan kali sebelum ia mati, bisa jadi itu dapat terjadi jika sejak kecil anak-anak membaca banyak kisah tentang beragam jenis kehidupan, karakter, tema dan latar belakang.

Let's Read yang mengacu pada 18 kantor Asia Foundation, hadir membangun perpustakaan digital untuk menciptakan peluang budaya membaca bermakna bagi anak-anak yang membutuhkan buku dengan berbagai kehidupan dan tentunya kesempatan dalam menjelajah dunia.

Let's Read  budaya membaca dalam genggaman
Kerennya Let's Read

Books for Asia menempatkan buku baru dan konten digital bagi anak-anak, pendidik dan pemimpin di 20 negara dalam meningkatkan akses mereka mendapatkan informasi yang berharga. 

Melalui kolaborasi teknologi dan buku, Let's Read menjadi bagian bagi anak-anak agar melek huruf, membangun pengetahuan, mempertajam kemampuan kejuruan dan penelitian termasuk meningkatkan keterampilan bahasa juga menciptakan, menerjemahkan konten pendidikan bagi anak-anak kapan saja, dimana saja, dalam bahasa yang digunakan anak-anak di seluruh dunia dan mempermudah aksesnya bahkan di tempat terpencil sekalipun.

Let's Read merupakan perpustakaan digital menyatukan penulis, ilustrator, dan editor untuk menghasilkan dan mengatasi kelangkaan buku anak-anak berkualitas tinggi berbagai bahasa yang mengeksplorasi topik-topik seperti pengelolaan lingkungan, keanekaragaman, toleransi, kesetaraan gender, dan STEM.  Hebatnya Let's Read sebagai perpustakaan digital berlisensi terbuka 100% gratis bukan hanya dibaca secara online namun dapat diunduh untuk dibaca secara offline bahkan dicetak melalui website let's Read, WOW!

Cara Menggunakan Let's Read dalam Aplikasi

Let's Read mengembangkan aplikasi dengan nama yang sama dengan websitenya yang dapat diinstal melalui google play store.  

Lets read budaya membaca dalam genggaman
Aplikasi Let's Read yang dapat diunduh di play store secara gratis

Setelah di install, Let's Read dapat langsung di aplikasikan. Cara penggunaannya sangat menyenangkan.  Video berikut dapat mejelaskan bagaimana mudahnya Let's Read digunakan:)

Let's Read Yok!


Begitu banyaknya pilihan buku dengan gambar menarik dan berwarna tajam ditemukan di let's Read.  Kedua anak saya dapat memilih buku dengan level dan tema yang diinginkan sesuai kebutuhan mereka.

Let's Read budaya membaca dalam genggaman
Bersama Let's Read, Anak-anak dapat membaca banyak koleksi buku sesuai level mereka

Mereka berdua menyukai kemudahan yang di berikan. Anak sulung sampai berkomentar, "Bisa pilih buku yang mau dibaca setelah itu tidak perlu di susun kembali ke dalam rak. Sekalian belajar banyak bahasa juga,"

Sementara anak bungsu saya berkata, "Gambarnya cantik-cantik! Adek suka! Adek bisa bawa banyak buku dengan satu tangan,"

Bagi saya, Let's Read menjadikannya sebagai perpustakaan dalam genggaman.  Kemudahan mendapatkan buku berkualitas tanpa perlu bayar mahal seharusnya tidak menjadikan alasan budaya membaca menjadi terhambat.  

Jika dulu akses saya mendapatkan buku perlu usaha keras, anak-anak saya juga seluruh anak-anak di dunia di masa sekarang seharusnya tidak mengalami hal yang sama.  Budaya membaca buku seharusnya tidak hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja.  Semua anak, dimanapun dia tinggal, kapanpun mereka inginkan, dapat memiliki kesempatan yang sama membaca buku berkualitas.

Mau membudayakan membaca buku repot? Alasannya banyak! Koleksi buku terbataslah, harga buku bagus makin mahal euy! Mana berat bawa buku kemana-mana, jadinya berasa kurang praktis.  Gimana bisa baca dimana saja? Yakin?


Tidak perlu menunggu lama, karena waktu terlalu berharga untuk disia-siakan.  Perpustakaan dalam genggaman bukan lagi menjadi sesuatu yang tidak masuk akal, yok kita mulai budaya membaca bersama let's Read sekarang juga!

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Bloggers Competition yang diselenggarakan oleh let's Read dan Blogger Perempuan Network.  Video bersumber dari saluran Youtube milik penulis, begitupun olah grafis dilakukan secara mandiri oleh penulis.  





*With LOVE,

@her.lyaa

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Bisa baca dalam genggaman emang enak banget ya, Mbak. Jadi nggak ada alasan untuk nggak membaca. Sekarang lebih mudah dengan aplikasi di ponsel pintar. πŸ₯°

    BalasHapus
  2. Asyik ya sejak kecil diajari gemar membaca dan berdiskusi dengan orang tua tentang buku yang dibaca..

    BalasHapus

Yuk tinggalkan komentar baik dan cerdasπŸ€—

Terimakasih... πŸ™