Ketika Homeschooling Mendadak Viral, Benarkah?

Ketika Homeschooling Viral
Pria berpikir | pixabay

Homeschooling jika diartikan menurut harfiah bahasanya adalah home=rumah dan schooling=sekolah.  Jadi Homeschooling adalah sekolah rumah.  Hmm... Sesimpel itukah maknanya? Atau jangan-jangan jadi semakin banyak pemahaman?

Disaat karantina berlaku di banyak negara termasuklah Indonesia akibat pendemik covid 19, banyak hal yang berubah dalam kehidupan keseharian masyarakat.  Pendidikan merupakan salah satu yang ikut kena imbas dari 'merumahkan' anak-anak.

Dari sana akhirnyalah banyak yang memulai proses pembelajaran jarak jauh.  Penggunaan aplikasi pesan, pemberian materi hingga pertemuan secara online. Sejak saat #dirumahaja, resmi kegiatan persekolahan formal dilakukan di rumah masing-masing.

Sekolah di rumah , Homeschooling?
kelas kosong | pixabay

Pertanyaannya adalah, apakah akhirnya anak-anak yang bersekolah kemudian belajar di rumah berubah status menjadi Homeschooler? Atau keberadaan mereka menjadi double status? 

Sistem Pendidikan Indonesia


Beberapa teman-teman yang pernah berbincang dengan saya ternyata belum semuanya mengetahui bahwa Indonesia mengakui tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan formal, non formal dan informal.  

Apa perbedaannya? Secara mudahnya pendidikan formal adalah sekolah formal yang dikenal dan dipilih secara umum oleh kebanyakan orang.  Masih belum ngeh? Nah... Sekolah Dasar, baik negeri atau swasta, dengan tingkatan seterusnya ke atas itulah yang disebut pendidikan formal.  Yang masuk dalam kategori pendidikan non formal diantaranya bimbel, pelatihan, yayasan, lembaga, PKBM, SKB dan sejenisnya.  Sementara Informal itulah yang disebut homeschooling.

Nah...nah... Jadi balik lagi kan? Kalau begitu kita bahas spesial (pakai telor) si Homeschooling deh :)


Memahami Homeschooling


Homeschooling merupakan sistem pendidikan berbasis keluarga.  Penanggungjawabnya adalah orangtua. 

Lalu apakah artinya hanya belajar di rumah saja? Karena namanya saja sudah home? Hmm... Home ini lebih mengartikan semuanya dimulai dari rumah, tapi tidak terbatas di rumah saja.   Menjadi homeschooling bukan artinya jadi tidak bisa kemana-mana lhoo... 

Homeschooling ada kemiripan dengan sekolah.  Mudahnya lagi nih, kalau sekolah ada kepala sekolah, guru, dan murid.  Homeschooling pun begitu.  Nah yang jadi kepala sekolahnya ya orangtua.  Yang memiliki otoritas kendali mau bagaimana metode dan kurikulumnya, ya ditangan orangtua.  Trus kalau ga punya orangtua lagi apa jadi ga bisa homeschooling? Masih bisa, selama jelas siapa yang memiliki tanggungjawab pengasuhan di dalam keluarga itu.  Misalnya kakek, nenek, paman, bibi, dan seterusnya.

Guru bagaimana? Siapa yang akan jadi guru untuk anak-anak homeschooling? Beberapa seringkali menanyakan hal serupa.  Mirip dengan sekolah, ada yang namanya guru tetap, ada pula guru terbang (guru tambahan dari luar).  Untuk anak-anak homeschooling, yang menjadi guru tetap adalah orangtuanya. 

Wah berarti orangtua harus serba tahu ya? Pasti orang tua Homeschooler pintar-pintar? Sebagai praktisi saya sih selalu mengaminkan hal tersebut, hehee.... Tapi intinya adalah orangtua homeschooler adalah seseorang yang siap untuk terus mau belajar, berpikir kritis, pantang menyerah dan tak kalah penting adalah memegang komitmen, karena peran dan tanggungjawab kembali lagi ke orangtuanya.  Jika ada kesalahan, ya gak bisa nyalahin siapapun.  Kalau sekolah mungkin masih bisa nyalahin gurunya, sekolah (misalnya). 

Homeschooling viral?
Guru | pixabay

Orangtua kan bukan manusia super,  Tidak semua yang diketahui, bukan pula seorang master.  Lantas apakah boleh belajar dengan orang lain? Ya boleh saja. Selama poin utamanya adalah apa yang diajarkan oleh si guru dari luar ini tidak keluar dari koridor aturan yang telah ditetapkan di keluarga itu sendiri.  Namun jika urusan ngajarin yang dasar aja dengan  orang lain, hmm.....

Jika sekolah formal bisa kunjungan, atau lebih familiar dengan istilah outing class, homeschooling pun dapat melakukannya, namun lagi-lagi yang menentukan adalah keluarga (orangtua).

Jika teman-teman bertanya bagaimana proses homeschooling keluarga saya, tentu jawabannya akan berbeda dengan keluarga lain. Keluarga yang memiliki jumlah anak satu, akan berbeda dengan yang memiliki anak lebih dari satu.  Cara menghadapi anak dengan rentang usia berdekatan akan berbeda dengan yang berjarak agak jauh, belum lagi bicara usia dini, anak usia sekolah, masuk usia remaja, dan seterusnya.  Atau ada keluarga yang lebih mengedepankan religius, akan berbeda dengan yang mengutamakan teknologi.  Ada pula lebih memilih tetap berbasis ijazah, atau lebih memilih profesional.  Dan masih banyak hal lain yang jelas dapat dikostumisasi oleh masing-masing keluarga.  Jadi wajar saja keluarga homeschooler sangat beragam.  

Seperti beragamnya bahasa daerah di Indonesia.  Beda satu kilometer saja bisa berubah logatnya, begitulah homeschooling.  Yang menyamakannya adalah semua kendali ada ditangan keluarga (orangtua).

Homeschooling tidak ada model standarnya.  Dalam prosesnya dikostumisasi sesuai keluarga itu sendiri.  


Sampai disini, apakah masih bingung? 


School From Home


Jika kejadiannya adalah seperti kebanyakan saat ini yang dikenal dengan School From Home (SFH)? Bukankah belajarnya dari rumah? Yang jadi guru adalah orangtuanya. Orangtua ikut memikirkan bagaimana cara mengajarnya.  Bukankah itu sudah bisa disebut homeschooling?

School from home , Homeschooling?
Belajar di rumah saat Corona | pixabay

Faktanya saat ini memang untuk anak-anak sekolah formal jadi diajarkan oleh orangtuanya masing-masing.  Pertanyaan yang perlu digali kembali adalah.  Apakah metode, tugas, hingga tujuan pencapaian pendidikan anak tersebut ditentukan oleh orangtua? Jika jawabannya adalah masih ada kaitannya dengan sekolah, artinya orangtua saat ini bisa jadi disebut sebagai guru terbang (guru tambahan) yang dibutuhkan oleh sekolah dikarenakan keterbatasan kemampuan sekolah untuk mengajar secara langsung.  

Lho...lhoo... Kan sekolah yang dibayar oleh orangtua, kenapa malah orangtua jadi guru terbang sekolah itu? Orangtua gak dibayar kok. 

Tenang teman-teman, tidak bermaksud mendiskreditkan kemampuan orangtua dalam urusan pembayaran, atau menjatuhkan harga diri orangtua hanya karena jadi 'guru terbang' saat pendemik seperti saat ini.  Hanya saja kondisinya sekolah memang sulit mengajar langsung, lantas mau bagaimana lagi? Saya hanya mencoba meluruskan pemahaman posisi keluarga yang menyekolahkan anaknya di sekolah formal dalam kondisi pembelajaran jarak jauh atau school from home tidak serta merta berubah status menjadi praktisi homeschooling.  

Bagaimana? Semoga bisa dipahami ya? Jangan sampai jadi bingung identitas lagi, biar anak-anaknya jadi gak ikutan bingung.

Lembaga berlabel homeschooling


Pernah baca sebuah poster atau bahkan plang bertuliskan homeschooling ABC? Atau justru teman-teman adalah salah satu yang sudah bergabung di sana, kemudian menyatakan sebagai praktisi Homeschooling? Jika yang masih sekolah formal karena didasari kekhawatiran akibat pendemik ini kemudian berpikir untuk homeschooling lantas menghubungi teman-teman (seperti saya) kemudian bertanya, "Homeschoolingnya dimana?" ?

Jika teman-teman membaca di paragraph awal bahwa Indonesia mengakui tiga sistem pendidikan.  Yang namanya lembaga mau apapun namanya tetaplah masuk di jalur non formal.  

Meskipun namanya menautkan homeschooling sebagai bagian namanya.  Bisa jadi lembaga tersebut belum mengetahui makna homeschooling itu sendiri, belum membaca bagaimana sejarah homeschooling, atau sudah tahu, tapi menggunakan nama homeschooling agar menimbulkan kesan hommy, terlihat lebih keren, dan apapun itu alasannya, sangat disayangkan karena sesungguhnya tetap menjadi kesalahan hingga dapat mengaburkan pemahaman homeschooling di Indonesia. Bahkan bisa saja nantinya ditertawakan oleh negara lain yang juga melegalkan homeschooling sebagai salah satu sistem pendidikan yang diakui di negaranya.

Lho tapi kan memasukkan anak di lembaga berlabel homeschooling masih bekerja sama dengan orangtua bagaimana mengatur waktunya, boleh memilih gurunya, terbatas siswanya, dan sifatnya fleksibel? Hmm... Memangnya masuk sekolah formal lainnya tidak akan bekerjasama dengan orang tua apa?hehee...

Pertanyaannya adalah, apakah orangtua harus membayar, mengikuti aturan, memilih guru, berdasarkan pemikiran lembaga, atau orangtua? Siapa yang memegang kendali dan mengatur? Siapa yang memberi pilihan? Siapa yang menentukan visi misinya? 

Tapi waktunya fleksibel, aturannya juga fleksibel, semuanya fleksibel lho.  Nah, kalau seperti itu, kenapa tidak sekalian saja diberi nama lembaga fleksibel, bisa juga disebut fleksischool? 

Bukannya homeschooling juga fleksibel? Wah bisa makin lebar lagi nih.  Fleksibel itu memangnya apa? Batasannya bagaimana? Fleksibel itu apakah sebuah makanan yang sangat enak?

Yang perlu diingat kembali adalah otoritas kendali ada ditangan siapa? Itulah yang penjadi pembedanya. See?

Orangtua dan Homeschooling
Bersama ayah | pixabay

Tidak akhirnya melarang bahkan menyalahkan orangtua yang memasukkan anak-anaknya ke lembaga tersebut.  Toh pendidikan non formal diakui sebagai salah satu sistem pendidikan di Indonesia.  

Hanya saja yang menjadikan kerancuan adalah pemberian nama homeschooling pada sebuah lembaga.  Non formal berbeda dengan informal, bukan berarti dapat digabungkan menjadi non-in formal.  Meskipun keberadaan PKBM dapat menjadi penjembatan pengurusan administrasi praktisi homeschooler berbasis ijazah saat mengambil ujian persamaan akhir tingkat. 

Bagaimana? Semoga semakin dapat membedakan mana yang disebut sekolah rumah, sekolah rasa tidak bersekolah, atau sekolah yang dirumahkan.


*With LOVE,

@her.lyaa

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Sebulan ini banyak banget bahasan homeschooler, maksudnya kalau di kalangan IP udah lumayan biasa ya, tapi di luar itu secara bersamaan jadi banyak yang tertarik. Dan dengan prinsipnya masing-masing juga, ada yang bilang kalau pakai lembaga itu namanya ya bukan homeschooling, sementara yang lembaga mengatakan kalau oleh orang tua aja nanti anak nggak fokus belajarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lembaga memng bukan homeschooling Mbak. Dan memng metode hs itu beragam, balik ke keluarga masing2:)
      Yang ditekankan di sini penempatan homeschooling itu tidak bisa pada semua hal. Bukan keputusan keluarga memilih sistem pendidikan terbaik bagi keluarganya masing-masing :)
      Makasih sudh mampir ya mbk, salam hangat:)

      Hapus

Yuk tinggalkan komentar baik dan cerdas๐Ÿค—

Terimakasih... ๐Ÿ™