Nikmatnya 8 Jam Saat Lebaran Versus Bersama Maksuba Sambil Silaturahmi

sajian kue saat dihidangkan
Sajian kue saat hari istimewa seperti lebaran (pic : ss net.tv)

Palembang terkenal dengan jembatan Amperanya, pempeknya, juga istilah wong kito yang tersebar diantara daratan dilalui sungai Musi sebagai salah satu top ten sungai terpanjang di Indonesia.  Namun ada yang sudah tahukah dengan kue khas Palembang yang tersaji hanya di waktu-waktu istimewa saja? 
Kue istimewa tersebut merupakan kue basah yang rasanya manis legit, gurih dengan cita rasa dan harga yang ekslusif.  Hahaha...  Seekslusif apa sih sebuah kue sampai segitunya? Sangking ekslusifnya, keberadaan kue ini tidak sembarangan disajikan, pembuatannya juga tidak mudah, plus bahannya harus pilihan yang membuatnya semakin terasa istimewa.  

Sebelum mengenalkan jenis kue ini, mungkin ada yang belum ngeh yang dimaksud dengan kue basah.   Yang jelas kue basah bukanlah kue yang di rendam dalam air atau kue yang terkena bencana banjir.  Tapi, Kue basah umumnya bertekstur lembut namun tidak renyah, empuk bukan berarti mudah hancur dan biasanya bertahan hanya beberapa hari.  Beberapa jenis kue basah bisa saja bertahan lebih dari seminggu, namun akan sulit untuk bertahan sampai satu bulan lamanya.  Itu pada umumnya lho, khusus kue basah khas Palembang ini, bahkan bisa bertahan lebih dari sebulan jika di simpan dalam Lemari es dengan kondisi tertutup.  Tapi yakin bisa selama itu? Rasanya gak sampe seminggu sudah tandas deh, hehe...

Yup! Kue khas yang saya maksud adalah maksuba dan delapan jam.  Pertama kali saya kenal dengan kue ini saat masih kecil waktu lebaran di rumah teman dekat papa yang orang asli Palembang.  Kedua kue ini disajikan tanpa dipotong terlebih dahulu, kemudian saat akan dikonsumsi, baru deh dipotong oleh si tuan rumah.  Yang membuat saat itu saya terkesan adalah rasanya yang sangat manis dan dingin.  Baru saya ketahui saat ini kenapa dingin, mungkin...dengan si tuan rumah disimpan didalam kulkas agar lebih awet.  Tapi nyatanya kondisi dingin jauh terasa lebih enak karena rasa manisnya lebih nyess di lidah.  Saya lupa berapa potong saat itu saya makan, namun sejak saya mengenal jenis kue itu, perasaan kurang suka saya dengan telur bebek berubah drastis menjadi sangat suka jika dikemas menjadi kue tersebut. 

Maksuba
maksuba, sekilas mirip lapis legit (pic : cookpad)

"Telur bebek? Bukannya biasanya kue dibuat dari telur ayam?" Begitu pertanyaan saya waktu itu karena beberapa kali menemani mama membuat kue, tidak pernah menggunakan telur bebek.  Telur bebek yang saya tahu adalah jadi favorit papa saat telah menjadi telur asin,hehe..

"Nah, itu istimewanya.  Kue ini dibuat dari telur bebek, dan papa adalah teman istimewa om," 

Begitulah tanggapan teman papa kepada saya yang membuat saya berpikir saat itu bahwa jika saya sanjo ke rumah keluarga asli palembang kemudian disuguhkan jenis kue ini, artinya saya adalah orang yang dianggap istimewa bagi keluarga itu. Padahal belum tentu juga kan? 

Sejarah hingga filosofi Maksuba dan delapan Jam


Maksuba dan delapan  jam merupakan kue yang sama-sama sudah ada sejak era Kesultanan Palembang Darussalam dan biasa disajikan untuk kaum bangsawan.  Namun masing-masing kue tersebut memiliki perbedaan dalam filosofinya.

Kue maksuba dimasa itu merupakan kue yang menjadi tolak ukur apakah perempuan tersebut sudah pantas dipersunting untuk dijadikan seorang istri.  Rasanya mungkin aneh jika tradisi ini masih dibawa hingga jaman sekarang, namun jika dipikirkan kembali, bisa menjadi sangat masuk akal jika alasannya adalah untuk menguji ketangguhan perempuan tersebut dalam membuat kue ini.  Dulu ceritanya, saat perempuan akan dilamar, maka calon mertua akan mengirimkan bahan mentah untuk membuat kue tersebut. Jika perempuan itu berhasil, dan dapat menyelesaikan prosesnya hingga selesai, maka perempuan tersebut dilamar dan diajak menikah.  Dan biasanya maksuba ini akan dibawakan kepada mertua ketika jelang hari raya lebaran sebagai wujud rasa cinta dan penghormatan. 

Kira-kira di jaman sekarang apakah setiap perempuan atau istri orang Palembang dijamin bisa membuat kue ini gak ya? 

Berbeda filosofinya dengan kue delapan jam.  Kue delapan  jam lebih memuat rasa tentang keseimbangan hidup.  Kue delapan jam merupakan kue yang dimasak selama 8 jam, tidak kurang dan tidak lebih.  Dalam sehari semalam, waktu yang kita miliki adalah 24 jam yang terbagi menjadi pagi, siang dan malam.  Jika 24 jam dibagi tiga waktu, maka hasilnya adalah 8 jam.  Setiap 8 jam mengandung makna 8 jam untuk bekerja, 8 jam beristirahat dan 8 jam beribadah.

delapan jam
Delapan jam, sering disingkat lapan jam (pic : shoppe)

Dalam pembuatan kue delapan jam, dituntut kesabaran dan ketelatenan.  Hasil kue delapan jam jika tidak tepat waktu, hasilnya bisa tidak sesuai dan matang dengan sempurna, artinya rasa dan warnanya pun tidak pas.   Hmm...

Persamaan dan Perbedaan Maksuba dan Delapan Jam


Maksuba dan delapan jam memiliki persamaan komposisi bahan pembuatnya, yaitu telur, gula dan susu dan mentega. Jumlah telur yang digunakan untuk membuat satu loyangnya bukan hanya terdiri dari satu dua butir telur, namun berjumlah puluhan.  Idealnya membuat kedua kue ini menggunakan telur bebek, namun dalam perkembangannya masyarakat mulai mencampur adonannya antara telur bebek dan telur ayam.  Tentu saja hasilnya akan lebih legit jika menggunakan telur bebek, namun langkanya termasuk harganya yang cukup mahal, maka penggunaan telur ayam dapat menjadi solusi alternatif agar kue tersebut masih dapat tersaji di hari istimewa, lebaran Idul Fitri.

Perbedaan pembuatan antara keduanya adalah teknik pembuatan dan tampilan hasil akhir.  Maksuba dituang kedalam loyang dan dimasak selapis demi selapis sehingga sekilas bentuknya mirip dengan kue lapis legit karena ada lapisan-lapisan dengan garis coklat pembatas-pembatasnya.  Sementara delapan jam, adonannya langsung dituangkan semuanya penuh kedalam loyang.

Untuk proses memasaknya, maksuba dibuat dengan cara dipanggang.   Tidak seperti saat ini pembuatan bisa menggunakan oven, pada masa lampau, orang Palembang menggunakan pemanggang tradisional berbahan bakar arang dan kayu.  Itulah mengapa pembuatan maksuba menjadi lebih sulit.  Sudah dibuat selapis-selapis, maksuba harus diawasi agar tidak gosong karena bara api tetap terjaga dengan intensitas sempurna.  Berbeda dengan delapan jam yang dibuat dengan teknik mengukus delapan jam lamanya, kemudian dipanggang beberapa menit sebagai finishing touch untuk mengeringkan airnya saja.

Mengenai rasa, keduanya memiliki rasa legit dan manis, meskipun sensasi tastenya tentu saja memberi rasa yang berbeda.  

Akhh...tak terasa sebentar lagi sudah mau lebaran, pembatasan silaturahmi secara langsung membuat lebaran ini bisa jadi membatalkan rasa maksuba dan delapan jam disuguhkan langsung kepada saya menjadi gagal.  Meskipun bisa saja saya memesannya untuk diri sendiri, namun ketika suguhan ini diberikan oleh orang Palembang asli kepada saya terasa lebih istimewa.  Jika disuruh memilih, saya sulit menolak keberadaan kedua kue ini.  Namun jika penawaran ini diberikan kepada Anda, mana yang Anda pilih, Menikmati delapan jam saat lebaranan atau bersama maksuba sambil silaturahmi keluarga?


*With LOVE,

@her.lyaa

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Aku paling suka bangetbyang namanya kue maksuba apalagi kalo makannya itu waktu dingin jadi manisnya itu ngga nyelekit , duh jadi ngga sabar buat cepet lebaran nih hihi :)

    BalasHapus
  2. Keluarga besarku lebih prefer Maksuba daripada 8 jam. Aku sendiri ga begitu menggemari keduanya karena di lidahku terasa manis banget. Tapi tetep dimakan juga sih kalau ada di depan mata ๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
  3. Bukan penggemar kue basah yang manisnya bikin ngegelinjang haha. Tapi kalau lebaran ya icip sikit bolehlah ya umi. Kue boleh nemu setahun sekali, sayang kalau dilewatkan :)

    BalasHapus

Yuk tinggalkan komentar baik dan cerdas๐Ÿค—

Terimakasih... ๐Ÿ™